CyberCare Career Talk and Panel Discussion. Are you coming?

On 2nd August 2015. I will be an invited panel speaker at an all-day public conference in HELP College of Arts and Technology. The conference theme is “Embracing Your Rhythm” and its purpose is to expose youths to different career paths of the road less travelled, so that they will better understand what they can possibly do and potentially be, by following their hearts, after graduating from school.

Have you ever wondered how did I become a motivational speaker? Who taught me to do that? Or how did I become a mental health helper? Which college did I earn my degree to do these things? In spite of being deaf and half blind?!? Haha! This event will be the place you get to hear my secret,

Tickets are going for RM50.00 per person. It allows you to attend the whole event from 9am to 6pm, lunch included! Proceeds from ticket sale go back to funding Youth Empowerment Programs for youngsters in foster homes.

More information can be found on the following page. Register yourselves too!
Embracing Your Rhythm – A career awareness talk and panel discussion

If you cannot make it for the event, do consider making a donation to help fund ongoing empowerment programs for the under-priviledged anyway. Thank you!

DONATE

P:S: Yes, Works of Gratitude will be raising funds to build a Neurofibromatosis Foundation there too, so do come by our booth!

Penguasaan diri melalui usaha secara berdikari

Seorang kawan menunjukan gambar berikut kepada saya. Ia meningatkan saya mengenai penentuan saya untuk berusaha membiayai yuran pembedahan dan perubatan di luar negara supaya saya boleh terus hidup semenjak umur sembilan belas tahun.

Tidak seperti apa yang dikatakan dalam gambar ini, saya bukan gigih berusaha demi mencapai kejayaan, walaupun pembedahan diperlukan untuk menyelamatkan dan memperliharakan nyawa diri.

Saya berusaha secara berterusan kerana saya suka akan perasaan berdikari. Apabila saya boleh mengunakan usaha diri, perasaan itu amat menguasakan.

Sewaktu saya berumur tiga tahun, ayah mengalami pendarahan otak. Semenjak peristiwa itu, saya sudah terpaksa berdikari. Sering saya berasa takut dan keliru mengapa keluarga saya penuh dengan kepahitan. Sebagai kanak-kanak, saya tidak terdaya membuat apa-apa, selain bertahan.

Keadaan hari ini berlainan kerana saya bukan lagi seorang kanak-kanak yang tidak berdaya. Melalui pertabahan saya pada masa kecil, saya berjaya menguasakan diri sendiri. Jadi, apabila saya mengunakan usaha diri hari ini, saya diingatkan tentang kekuasaan saya hari ini berbanding dengan masa dahulu yang tidak terdaya. Peringatan ini memberi saya kesyukuran.

Sebenarnya, saya tidak erti apa itu putus asa, kerana berputus asa cuma akan membawa lebih kesusahan pada diri sendiri. Dalam hidup dengan kelainan genetik Neurofibromatosis, putus asa akan membawa kesusahan untuk seisi keluarga dan akhirnya maut pada diri sendiri. Mengapa saya patut berputus asa, sementara berusaha untuk meneruskan nyawa diri begitu menguasakan?

Two Mindsets and their different attitudes

Perjuangan saya untuk hidup

Nota: Karangan ini dipaparkan dalam sebuah majalah di negara Indonesia pada tahun 2011 semasa saya berusia 25 tahun. Saya dilahirkan pada tahun 1986. Penulisan ini asalnya dalam bahasa Inggeris yang kemudiannya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh majalah tersebut.

Sama sekali tidak diragukan bahwa mata Tuhan tidak pernah jauh dari saya dan telah mengawasi saya dan keluarga saya selama ini.

Heart4Hope profile picture bvy Yee Fan in 2010

Manusia pada dasarnya baik, Yvonne Foong

Usia saya 25 tahun dan saya dilahirkan dengan kelainan genetik yang disebut Neurofibromatosis. Kelainan ini menyebabkan tumor bertumbuh di otak, dan juga di sum-sum tulang belakang dan sistem saraf perifer. Sejak diagnosa saya di usia 16 tahun, saya telah menjalani lapan operasi otak dan satu operasi tulang punggung. Setelah menjalani dua operasi di Malaysia, saya memulai menggalang dana secara publik untuk membiayai operasi saya di Amerika Seikat yang dapat meningkat kadar keberhasilan. Saya berusia 19 tahun saat saya memulai Heart4Hope.

Setiap operasi saya di Amerika membutuhkan biaya di antara Rp 300 juta sampai Rp 600 juta. Saya menggalang dana untuk setiap operasi dengan menjual kaos yang dirancang khusus Heart4Hope dan juga buku biografi saya. Buku biografi saya berjudul, “Saya tidak sakit, hanya saja sedikit kurang sehat – Hidup dengan Neurofibromatosis”. Dalam rangka membantu saya menggalang dana, saya akan diundang untuk membagikan kisah saya di sekolah, universitas, acara-acara khusus dan juga tempat-tempat ibadah.

Selama sembilan tahun terakhir ini, pada keseluruhannya saya telah melewati 8 operasi otak dan satu operasi tulang punggung. Selama penggalangan dana saya, ada yang mempersoalkan keputusan saya untuk menjalani operasi di Amerika padahal operasi dapat dijalankan dengan lebih murah di Malaysia. Tetapi saya bertahan dan berpegang pada keyakinan saya. Untungnya saya tetap bertahan pada keyakinan saya karena hasilnya dapat dilihat sekarang. Tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa tidaklah mungkin untuk berhasil melewati sembilan operasi otak dan tulang punggung tanpa ke Amerika.

Orang sering menanyakan pada saya apa yang membuat saya begitu kuat. Apa yang memberi saya kekuatan untuk bertekun dan bahkan menggalang dana untuk menyelamatkan hidup saya? Mereka berkata bahwa kebanyakan orang akan pasrah pada nasib jika mereka berada di dalam posisi saya. Untuk waktu yang lama, saya tidak tahu jawaban pada pertanyaan ini melainkan bahwa saya tidak punya pilihan. Namun menurut mereka, saya punya pilihan, dan saya membuat pilihan untuk berjuang.

Di Desember 2009, saya melewati satu lagi operasi di bagian otak di Los Angeles’ House Clinic. Tumor di bagian tengah otak saya dikeluarkan. Saya tidak langsung sadar setelah operasi ini tapi selama tiga hari saya berada di antara keadaan sadar dan tidak. Selama tiga itu, saya akhirnya dapat mengalami apa rasanya berada di dalam keadaan seperti yang pernah dialami ayah saya dan akhirnya, saat saya terbaring di situ, saya mengerti apa yang membentuk saya menjadi seorang pribadi yang kuat hari ini.

Saya dilahirkan dalam keadaan yang sehat dan seperti keluarga lain, orang tua saya utamanya ayah saya sangat bersukacita atas kelahiran saya. Namun, semuanya berubah saat saya berusia tiga tahun. Suatu hari, ayah saya tidak bangun dari tidurnya. Dokter dipanggil and ambulans segera datang menjemputnya. Yang saya ingat adalah saya digendong saudara saya dan kami memerhatikan ayah saya terlantar tak berdaya di rumah sakit. Ayah saya mengalami pendarahan otak saat tidur. Salah satu pembuluh otaknya pecah dan operasi dibutuhkan untuk mengeluarkan pendarahan. Ayah saya berada dalam keadaan koma selama satu bulan. Oleh kasih karunia Tuhan, dia berhasil melewatinya dan sadar setelah satu bulan, tapi dia berubah menjadi seorang yang sama sekali berbeda. Saya kehilangan ayah yang saya kenal selama tiga tahun pertama hidup saya – ayah yang akan membawa saya ke kebun binatang di atas bahunya – saya kehilangan dia.

Karena saya masih kecil, tidak ada orang yang menjelaskan pada saya bahwa ayah saya telah menderita stroke dan apa artinya semua itu. Tapi sejak hari itu, rumah kami menjadi tempat yang gelap dan menakutkan. Setelah menderita stroke, ayah saya masih dapat berbicara dan merawat dirinya seperti orang normal yang lain. Tapi dia sekarang jadi lupa ingatan dan tidak dapat mengatur emosinya. Dia juga mengalami kesulitan mengingat berapa uang yang dimilikinya, berapa yang telah dipakainya dan bagaimana dia memakainya. Frustrasi dengan kebingungannya sendiri, ayah saya mulai menjadi seorang yang pemarah. Sebagai satu-satunya anak mereka, saya harus menanggung semuanya.

Ada waktunya saya menangis hingga tertidur saat mendengar orang tua saya saling memaki. Di lain waktu, saya melihat ayah saya menghantamkan kepalanya ke dindng sambil menyumpahi dirinya bahwa sebaiknya dia mati saja. Sejak kecil saya berusaha untuk tidak merepotkan ibu saya, sekalipun saya ketakutan dan sangat membutuhkan penghiburan. Saat saya ketakutan dan kesakitan, saya harus berusaha menghibur diri, merawat luka saya sendiri dan menyelesaikan
masalah saya sendiri.

Dalam keadaan itulah saya bertumbuh, tahun demi tahun. Saat saya di usia 16 tahun dan didiagnosa dengan Neurofibromatosis yang membutuhkan operasi di luar negeri, secara alamiah saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk mengumpulkan dana. Tak terlintas di benak saya untuk meminta uang dari orang tua saya. Pertama, mereka akan menanggapi dengan kepahitan dan kemarahan. Saya tidak mau menimbulkan suasana tidak menyenangkan dalam keluarga dan saling menuduh. Jadi saya mengurus masalah saya sendiri dan mulai mendapatkan dukungan dari publik.

Anehnya, saya mempunyai keyakian yang naif bahwa manusia pada dasarnya baik meskipun saya bertumbuh dalam lingkungan yang tidak mendukung. Saat saya mulai penggalangan dana, ada yang mendorong saya untuk menjual kaos. Jadi saya menerima saran mereka dan menjual setiap kaos seharga Rp 90,000. Sama sekali tak terlintas di benak saya bahwa saya akan mengumpulkan Rp 500juta hanya dengan menjual kaos seharga Rp 90,000. Tapi saya senang dapat mencari uang sendiri. Di dalam hati saya ada suatu keyakinan. Saya mau menemukan kasih yang saya yakin masih eksis, jadi saya menamakan proyek penggalangan dana saya sebagai Heart4Hope (Hati Pengharapan). Saya mau orang mendukung saya karena mereka membagi keyakinan saya dan bukan karena simpati.

Keyakinan yang sederhana ini telah memenangkan saya tiga penghargaan sosial termasuk Asian Youth Ambassadors’ Most Outstanding Youth of the Year 2005 (Duta Muda Asia – Anak Muda Paling Menonjol 2005 dan Anak muda Berprestasi versi majalah Her World, 2008)

Sekarang saya sedang menyelesaikan S1 jurusan Psikologi dan juga menjadi pembicara motivasi. Di awal tahun 2010, Tuhan memberi saya satu lagi kejutan. Seorang sesama pasien di Amerika yang telah mengikuti perjuangan saya untuk menggalang dana buat membiayai operasi saya, memberitahu para peneliti di National Institutes of Health di Amerika tentang saya. Mereka meninjau catatan medis saya dan menerima saya ke dalam program riset klinis yang mempelajari perkembangan jangka panjang Neurofibromatosis Tipe 2. Dengan berpartisipasi di dalam riset ini, operasi saya akan dijalankan di sana oleh salah satu dokter yang terbaik di dalam dunia medis dan semuanya gratis. Sesungguhnya ini suatu hal yang sangat luar biasa yang tak pernah terbayangkan oleh saya.

Saya sangat bersyukur untuk orang tua saya meskipun waktu lampau kami sangatlah susah. Saya menyakini bahwa segala sesuatu terjadi untuk suatu alasan. Orang tua saya adalah orang tua saya untuk memberi saya kekuatan untuk berjuang melawan Neurofibromatosis. Ayah saya meninggal karena penyakit jantung Oktober 2010, sementara ibu saya terus merawat saya setiap kali saya harus menjalani operasi. Sangatlah luar biasa bagaimana kami dapat bertahan sebagai satu keluarga dan bagaimana saya menjadi siapa saya sekarang.

Melihat kembali pada kehidupan saya sampai hari ini, sama sekali tidak diragukan bahwa mata Tuhan tidak pernah jauh dari saya dan telah mengawasi saya dan keluarga saya selama ini.

(Yvonnne dapat dihubungi di yvonnefmn< (at)gmail(dot)com and catatan kehidupannya dapat dibaca di websitenya, http://www.yvonnefoong.com/)

Our reason for marrying determines the future

i had the opportunity to observe something closely that changed my mind on a long held idea.

For many years since i was little, i had wanted to have a family of my own. Family life with my parents used to be unhappy, so I wanted to build a happier and healthier one.

Recently, I got the chance to observe what could happen when people marry with having a family as their ultimate purpose. They might enter into the marital contract and agreement without enough consideration as to whether the two parties have shared expectations of their life together. And they may overlook the fact whether they truly love the person, or if the person is just a means to an end.

When the marriage begins to stiffen, stagnate and fail, they may not want to divorce but maintain a redundant marriage, either for the children, for face, out of duty, or for the sake of having a family.

They then seek love outside of the marriage – from third parties. They end up living a lie, in secrecy and in suppression.

In illusion, resentment and suffering

I observed this among my peers. People around my age. Not an uncle story. 😝

So my long held dream changed. Now i just want someone whom i can truly and openly love. Someone whom I have mind, heart and spiritual connections with. A life partner with whom i can live a purposeful life.

Whether we will have kids or not, a family or not, doesn’t matter.

Mind over Matter

I encouraged the mom of an 11-year-old girl with NF1 yesterday by sharing with her how I coped when my self-esteem was tested in childhood.

I was born with a deformed left eye and was teased a lot in school. It hurt. But at the same time, I was performing well in ballet class and concerts, which strengthened my sense of self.

Throughout my growing up years, I was closest to my father’s younger sister, my Aunt Ivy. I was more close to her than my own mother. Aunt Ivy was a spiritually strong, independent and capable woman. Growing up with her, I learned that physical conditions do not affect us. Mind over matter, so when I was diagnosed with Neurofibromatosis, i did not think my condition made me any less. What’s important are my inner and inherent qualities.